Image


24FEB

6 Jenis Ikan Lele

Lele merupakan komoditas perairan yang bisa di budidayakan di air tawar.  Keberadaannya yang sangat populer, dan sangat mudah untuk di pelihara dan juga memiliki peluang bisnis. Selain itu kebutuhan ikan lele terus meningkat untuk tujuan konsumsi dan pemenuhan di warung-warung makan.

Di Indonesia ada beberapa jenis ikan lele yang biasa dibudidayakan di masyarakat, setiap jenis punya keunggulan dan kekurangan. Kita akan membahas beberapa di antaranya yang populer, sehingga bisa jadi bahan pertimbangan untuk memilih bibit lele yang akan dibudidaya. Ada beberapa varietas ikan lele diantaranya yaitu, lele dumbo, lele lokal, phyton, sangkuriang, masamo dan mutiara.

 

1. Lele Dumbo

Nama lain leledumbo yaitu Clarias Fuscus, lele ini di datangkan dari Taiwan pada tahun 1986, lalu di Indonesia di populerkan dengan nama lele dumbo. Menurut keterangan dari importirnya, lele dumbo merupakan hasil kawin silang antara betina lele Clarias Fuscus yang asli Taiwan dengan dengan pejantan Clarias mossambicus yang berasa dari Afrika dan pertumbuhannya tergolong cepat dari lele local. Serta tubuhnya dua kali lebih besar dari lele local.

Lele dumbo dapat mencapai berat 200-300 gram setalah mencapai umur 8 bulan. Banyak peternak memilih lele dumbo karena tubuhnya yang besar, telur yang banyak, serta lebih tahan terhadap penyakit dan mudah beradaptasi.

Sifat-sifat lele dumbo antara lain sebagai berikut:

  1. Apabila terkejut/ stress, warna badan berubah menjadi bercak hitam dan putih.
  2. Gerakannya lebih agresif
  3. Patilnya tidak beracun

 

2. Lele Lokal

Lele local merupakan lele yang biasa di budidayakan , nama lain dari lele local ialah Clarias batrachus. Ada 3 variasi warna tubuh pada keke local, yaitu hitam agak kelabu gelap (warna paling umum), bulai/putih, dan merah, adapula yang berwarna hitam putih, dan merah hitam.

Di berbagai daerah lele local mempunyai nama sesuai bahasa daerah masing-masing: lele jawa, lele kalang (Sumatra barat), pintet (Kalimantan), ikan keeling/ keli (Sulawesi selatan/makasar).

Sekarang ini sangat jarang peternak yang membudidayakan jenis lele lokal yang dipandang kurang menguntungkan karena pertumbuhannya yang terbilang sangat lambat.

Lele local mempunyai sifat-sifat berikut:

  1. Apabila terkejut atau menderita stress, warna badannya gelap merata.
  2. Gerakannya biasa, tidak terlalu agresif
  3. Patilnya beracun

 

3. Phyton

Lele Phyton, begitulah julukan yang diberikan penemunya. Lele ini pertama kali ditemukan di desa Bayumundu, Kecamatan Keduhejo, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Berawal dari keprihatinan peternak lele di daerah tersebut karena lele yang diternakan kurang dapat bertahan didaerah beriklim dingin seperti di desa Bayumundu yang menyebabkan kegagalan berternak dan produksi yang kurang baik.

Lele phyton adalah lele hasil persilangan buatan bukan hasil laboratorium, tapi percobaan yang dilakukan salah seorang peternak lele di daerah tersebut. Dari keterangan diketahui, bahwa Induk jantan adalah lele eks Thailand generasi kedua (F2) sedang induk betina adalah lele lokal, dari hasil perkawinan ini maka dihasilkan lele phyton yang memiliki ketahanan dalam cuaca dingin dan mampu berproduksi diatas rata-rata lele berkualitas lainnya. Dengan pemeliharaan hanya 40 hari dengan konsentrasi pemberian pakan yang baik maka perbandingan 1 kg pakan yang dikonsumsi ikan lele phyton mampu menambah berat lele phyton sebesar 1 kg.

Lele phyton memiliki daging yang tebal dan kenyal. Lele python memiliki kwalitas diatas lele dumbo, local, dan sangkuriang. Hal ini bisa di tandai dari perkembangan tubuhnya .

Pada awalnya lele phyton dilakukan untuk menjawab keluhan para peternak lele di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang yang sering mengalami kerugian karena benih lele dumbo tidak cocok dibudidayakan di Desa Banyumundu yang beriklim dingin, dimana malam harinya suhu berkisar 17 C. Selama lebih dari 2 tahun percobaan akhirnya ditemukanlah lele phyton. Kualitas lele phyton ini juga diakui oleh Dinas Perikanan Budidaya Provinsi Banten.

 

4. Lele Sangkuriang

Semakin berkembangnya varietas dan keunggulan lele, siapa yang tidak kenal dengan Lele sangkuriang ini?. Jenis lele sangkuriang ini di temukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pada tahun 2004.
Baru pada tahun 2000-an, pemerintah lewat BBPBAT melakukan penelitian untuk meningkatkan kembali kualitas lele dumbo.

Dengan menggunakan metode silang balik (back cross) ternyata lele dumbo bisa diperbaiki kualitasnya. Kawin silang balik yang dilakukan BBPBAT adalah mengawinkan indukan betina generasi ke-2 atau biasa disebut F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985, dengan indukan jantan lele dumbo F6.

Perkwainannya melalui dua tahap, pertama mengawinkan indukan betina F2 dengan indukan jantan F2, sehingga dihasilkan lele dumbo jantan F2-6. Kemudian lele dumbo F2-6 jantan ini dikawinkan lagi dengan indukan F2 sehingga dihasilkan ikan lele Sangkuriang.

Proses penelitian ikan lele Sangkuriang memakan waktu yang cukup lama. Dua tahun setelah itu benih lele Sangkuriang baru diperkenalkan secara terbatas. Pengujian dilakukan pada tahun 2002-2004 di daerah Bogor dan Yogyakarta. Baru pada tahun 2004, dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan tentang pelepasan varietas ikan lele Sangkuriang kepada publik.

Perbandingan yang paling mencolok antara ikan lele dumbo dengan ikan lele Sangkuriang antara lain, adalah kemampuan bertelur (fekunditas) ikan lele sangkuriang yang mencapai 40.000-60.000 per kg induk betina dibanding lele dumbo yang hanya 20.000-30.000, derajat penetasan telur dari ikan lele sangkuriang lebih dari 90% sedangkan lele dumbo lebih dari 80%.

Dilihat dari pertumbuhannya, pembesaran harian ikan lele sangkuriang bisa mencapai 3,53% sedangkan lele dumbo hanya 2,73%. Dan, konversi pakan atau Food Convertion Ratio (FCR) ikan lele sangkuriang mencapai 0,8-1 sementara lele dumbo lebih besar sama dengan 1. FCR merupakan nisbah antara berat pakan yang diberikan dengan berat pertumbuhan daging ikan. Semakin kecil nisbah FCR semakin ekonomis ikan tersebut dipelihara.

Penamaan ikan lele Sangkuriang mengambil nama seorang anak dari cerita mitologi Sunda. Dalam cerita tersebut adalah seorang anak bernama Sangkuriang yang berhasrat mengawini ibunya sendiri. Mungkin karena hal itulah nama ikan lele Sangkuriang menjadi nama varietas lele hasil silang balik.

 

5. Lele Masamo

Lele masamo ini diperkenalkan pada tahun 2010 didatangkan dari Thailand di Indonesia. Lele masamo ini lebih cepat dalam pertumbuhannya, dan juga lebih tahan terhadap penyakit

Ada beberapa ciri-ciri pada ikan masamo yaitu:

  1. Bentuk tubuh ikan masamo lebih memanjang
  2. Kepala ikan berbentuk lonjong meruning
  3. Sirip patil lebih tajam
  4. Warna tubuhnya hitam pekat
  5. Lebih agresif dan nafsu makan yan tinggi

 

6. Mutiara

Lele Mutiara ini dianggap ebagai lele yang paling popular, dan paling diminati para pembudidaya ikan lele, karena begitu banyak keunggulan-keunggulan yang ada pada ikan lele mtiara ini. Nama Mutiara ini diberikan pada ikan lele bukan tanpa makna, bahkan nama ini mencerminkan kualitas dan mutu strain yang sangat unggul. Seperti Namanya lele Mutiara (Mutu Tinggi tiada Tara).

Pertumbuhan lele Mutiara ini sangat cepat 10-40% dibandingkan dengan lele yang lain, dengan masa pemeliharaan yang sangat singkat serta bisa di panen pada umur 40-45 hari setelah tebar benih, dengan adaptasi lingkungan dan suhu yang bagus, serta FC rendah. Ciri ikan lele Mutiara ini dengan bentuk tubuh Panjang dari lele yang lain.

ARTIKEL TERBARU

Tags

Opportunie.com
Ribuan informasi lowongan pekerjaan di seluruh dunia