Image


21FEB

Memahami Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok

Dalam budidaya lele ternyata mengalami perkembangan teknologi budidaya, Beberapa tahun kebelakang sistem yang dipakai dalam budidaya lele adalah sistem autotrof. Namun cara itu mempunyai kelemahan yaitu keterbatasan dalam memanfaatkan limbah budidaya.


Apa itu Bioflok?

Bioflok berasal dari kata bio yang berarti kehidupan dan floc yang berarti gumpalan. Bioflok bisa diartikan sebagai gumpalan (flok) dari berbagai campuran heterogen mikroba (plankton, protozoa, fungi), partikel, polimen organik, koloid dan kaiton yang saling berinteraksi dengan sangat baik di dalam air.


Cara kerja dari sistem bioflok ini adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang di dalamnya berisi senyawa karbon (C), Oksigen (O), Hidrogen (H), Nitrogen (N) menjadi massa slugde berbentuk bioflok dengan cara memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan/flok yang mengubah biopolymer sebagai bioflok.

Dalam penerapnnya dalam budidaya perairan dalam hal ini budidaya lele, teknologi bioflok memanfaatkan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yang tidak beracun. nitrogen yang sudah diubah ini bsia digunakan untuk pakan lele, sehingga lebih hemat biaya.


Kelebihan Sistem Bioflok Untuk Ternak Lele

  • Lebih Hemat Air
  • Lebih Hemat Pakan
  • Padat Tebar Tinggi
  • Dapat dibudidayakan dilahan sempit

 

Penerapan Sistem Bioflok Untuk Budidaya Ikan Lele

1. Pembuatan Kolam Terpal

Untuk pembuatan kolam ini diperlukan lahan yang yang siap untuk dibuatkan kolam, untuk besarnya per kolam antara 2-3 meter, tergantung dari kebutuhan anda. Dan untuk menjaga kestabilan dan kualitas air diperlukan payung atau atap agar cahaya matahari dan hujan tidak langsung masuk karena matahari dan air hujan langsung akan mempengaruhi kualitas air dan merusak dari segi PH dan mikro-organisme yang hidup di dalam kolam.

2. Pengisian air

Isi kolam dengan air dengan ketinggian 80-100 cm, kemudian buat sistim aerasi, larutkan garam grosok 3kg/m3 kedalam media atau garam dapat dilarutkan dahulu dengan air baru dimasukkan kedalam media agar tercampur merata.

Kemudian nyalakan aerator. Hari kedua, masukkan bakteri pathogen atau probiotik kedalam kolam sebanyak 6ml/m3. Hari ke tiga, beri pakan probiotik tadi dengan memasukkan molase atau tetes tebu 250ml/m3. Molase atau tetes tebu juga dapat diganti dengan air gula tebu atau air gula jawa/merah. Selain itu tepung terigu juga bisa menjadi pakan tambahan bagi bakteri patogen, anda bisa menambahkan 100-200 gr tepung terigu kedalam kolam.
Pada malam harinya boleh ditambah dolomit dengan takaran 200-250 gr/m3. Kemudian biarkan air kolam diaerator 7-10 hari agar mikro organisme cepat berkembang biak. Setelah 10 hari bakteri atau mikro organisme sudah berkembang dengan baik, kolam budidaya siap ditebar dengan benih lele dengan padat tebar 250-350/m3.

3. Penebaran dan perawatan bibit lele

Benih lele yang baik berasal dari indukan yang unggul, ditandai dengan gerakan yang aktif. Penebaran bibit lele pada ukuran 4-5 cm. Kemudian setelah 10 hari sekali berilah

  • Probiotik 5 ml/m
  • Ragi tempe 1 sendok makan/m
  • Ragi tape 2 butir/m

Malam harinya tambahkan dolomite 200-300/m (diambil airnya saja)
Setelah ukuran benih lele mencapai 12 cm atau lebih, maka setiap 10 hari sekali masukan bahan-bahan seperti yang di lakukan di awal.

ARTIKEL TERBARU

Tags

Opportunie.com
Ribuan informasi lowongan pekerjaan di seluruh dunia